RUBRIK KONSULTASI MUI BATU

PENGASUH:
KH Nur Yasin Muhtadi, KH Munir Fathulloh, KH Abdullah Thohir, KH Ali Rohim Zamzami, KH Habib Jamal Ba’agil, KH Ali Murtadlo, Hj Azizah Ghufron, Hj Lailatul Mufidah, Hj Sudartie

Kirim pertanyaan ke email: konsultasi@muibatu.org atau SMS/WA 081335257325

Valentine’s Day

VALENTINE’S DAY

Sebagai kawasan wisata, Kota Batu kerap dibanjiri pengunjung. Termasuk ketika Valentine’s Day, banyak muda-mudi Muslim yang merayakannya di tempat ini dengan berbagai acara. Sebenarnya bagaimana hukum perayaan Valentine’s Day bagi seorang Muslim?

Achmad
Oro-Oro Ombo, Kota Batu

 

Jawab:

MUI Kota Batu telah mengeluarkan fatwa tentang hal ini pada tanggal 2 Februari 2015, mengingat banyaknya pengaduan dari masyarakat.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa momentum Valentine’s Day kerap dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang menyebabkan tumbuh suburnya praktik kemaksiatan di Kota Batu. Padahal ini adalah perayaan orang-orang kafir, di samping budaya umat Kristiani juga merupakan warisan Romawi Kuno dalam pemujaan dan penyembahan dewa. Apalagi diiringi dengan perbuatan-perbuatan yang jelas bertentangan dengan ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya.

Rasulullah SAW, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).

Atas dasar itu, maka memperingati Valentine’s Day bagi kaum Muslim adalah haram. Di samping ini merupakan tasyabbuh (menyerupai) budaya di luar Islam, juga cenderung mengarah kepada kemaksiatan.

MUI mengimbau agar masyarakat tidak merayakan dan atau memperingati Valentine’s Day dalam bentuk kegiatan apapun.

MUI juga mengimbau kepada pihak yang berwenang agar selalu mengawasi dan mewaspadai kegiatan-kegiatan yang dapat mengakibatkan tumbuhnya praktik-praktik kemaksiatan di Kota Batu.* (muibatu.org)

Menggunakan Atribut Non-Muslim

MENGGUNAKAN ATRIBUT NON-MUSLIM

Ketika perayaan hari besar non-Muslim, seringkali kita jumpai penggunaan berbagai atribut seperti mall, tempat wisata, dan lain-lain. Banyak karyawan beragama Islam yang disuruh memakai atribut non-Muslim untuk menyemarakkannya. Bagaimana hukumnya?

Abdulloh
Temas, Sisir, Kota Batu

 

Jawab:

Banyak warga yang mengadukan hal ini. Misalnya ketika Natal dan Tahun Baru, ada karyawan (beragama Islam) di tempat tertentu yang harus menggunakan busana Sinterklas. Dalam waktu yang sama, ada kesimpangsiuran pendapat di antara tokoh dan pejabat publik yang cenderung memudah-mudahkan sehingga cenderung merongrong aqidah.

Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil, dan janganlah sembunyikan yang haq itu padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 42).

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).

Jumhur ulama melarang sikap tasyabbuh (menyerupai) orang kafir. Misalnya Jalaluddin As-Suyuti, Ibnu Hajar Al-Haytami, Ibnu Taimiyah, Mazhab Syafi’i, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, dan banyak lagi.

MUI Kota Batu telah mengeluarkan fatwa pada tanggal 9 Rabiul-Awwal 1437 H atau 21 Desember 2015 yang menyatakan bahwa setiap Muslim haram menggunakan atribut/simbol tertentu yang mencerminkan agama selain Islam, karena hal itu merupakan tasyabbuh. Setiap Muslim juga haram untuk berpartisipasi, memberikan simpati, dan turut bersuka cita serta memberi ucapan selamat atas hari raya selain Islam, demi terhindarnya campur aduk aqidah dan ibadah dengan agama lain.* (muibatu.org)

Faham Syiah

FAHAM SYIAH

Masyarakat sempat ramai memperbincangkan tentang faham Syiah. Mohon penjelasan tentang faham ini. Terima kasih.

Shofi
Batu

 

Jawab:

MUI dalam Rapat Kerja Nasional pada tanggal 4 Jumadil-Akhir 1404 H atau 7 Maret 1984 telah menyatakan bahwa faham Syiah adalah faham yang mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah) yang dianut oleh umat Islam Indonesia.

Perbedaan itu di antaranya:

  1. Syiah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul-Bait, sedangkan Sunni tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu musthalah hadits
  2. Syiah memandang “Imam” itu ma’shum (orang suci), sadangkan Sunni memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan
  3. Syiah tidak mengakui adanya ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Sunni mengakui ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”
  4. Syiah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan imamah adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan umat
  5. Syiah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Ibnul Khathab, dan Utsman bin Affan, sedangkan Sunni mengakui keempat Khulafaur-Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bin Abi Thalib).

Mengingat adanya perbedaan-perbedaan pokok di atas, terutama tentang imamah (pemerintahan), maka MUI mengimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham Syiah.* (muibatu.org)

Panti Pijat

PANTI PIJAT

Di wilayah Kota Batu banyak terdapat panti pijat. Bagaimana hukumnya?

Budi
Sengkaling, Malang

 

Jawab:

MUI Pusat telah mengeluarkan fatwa terkait hal ini pada tanggal 27 Ramadhan 1402 H atau 19 Juli 1982.

Hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Firman Allah SWT: “…Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka…” (QS. An-Nur: 30).
  2. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kemudian, janganlah ia sekali-kali berduaan dengan wanita yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketika adalah setan.” (HR. Ahmad).
  3. Melihat aurat hanya dibolehkan misalnya pada obat-mengobati. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan menurunkan bersamanya obat…” (HR. Abu Dawud).
  4. Hindarilah hal-hal yang menjurus dosa, karena Allah SWT berfirman: “Janganlah mendekati zina, sesungguhnya zina adalah keji dan seburuk-buruknya jalan.” (QS. Al-Isra’: 32).

Secara umum, panti pijat mempunyai fungsi sosial, selama tidak melanggar hukum-hukum agama. MUI menetapkan bahwa pada dasarnya panti pijat adalah suatu sarana atau tempat untuk pengobatan. Oleh karena itu, hukumnya mubah (boleh), kecuali jika dalam pelaksanaannya terdapat hal-hal yang melanggar ketentuan syariat maka hukumnya menjadi haram.* (muibatu.org)