SEJARAH MUI KOTA BATU

 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah lembaga swadaya masyarakat yang mewadahi ulama, zu’ama, dan cendekiawan Islam di Indonesia untuk membimbing, membina, dan mengayomi kaum Muslimin di seluruh Indonesia. MUI (Pusat) berdiri pada tanggal 7 Rajab 1395 Hijriyah, bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1975 di Jakarta, Indonesia.

Berdirinya MUI merupakan hasil dari pertemuan atau musyawarah para ulama, cendekiawan, dan zu’ama yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Antara lain 26 orang ulama yang mewakili 26 provinsi di Indonesia pada masa itu, 10 orang ulama unsur dari ormas Islam tingkat pusat, yaitu Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti, Al-Washliyah, Mathlaul Anwar, GUPPI, PTDI, DMI, dan Al-Ittihadiyyah. Juga ada 4 orang ulama dari Dinas Rohani Islam, Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan POLRI, serta 13 orang tokoh/cendekiawan yang merupakan tokoh perorangan.

Sedangkan MUI Kota Batu berdiri seiring dengan lahirnya Kota Batu. Dulu kawasan wisata ini masuk wilayah Kabupaten Malang dan hanya menjadi kota kecamatan. Sejak tahun 1993 berubah menjadi kota administratif, dan akhirnya pada tanggal 17 Oktober 2001 menjadi kota.

Pada tahun 1999, MUI Kecamatan Batu dipimpin oleh KH Zamroni. Setelah berubah status sebagai kota, maka terbentuklah kepengurusan MUI Kota Batu yang pertama untuk periode 2002-2007. Bertindak selaku Ketua adalah KH Faqih Sya’roni dan Sekretaris Muhammad Syueb.

Kepengurusan awal ini masih fokus pada konsolidasi organisasi. Misalnya penataan dan pemantapan pengurus MUI tingkat kecamatan. Wilayah Kota Batu terdiri atas Kecamatan Batu, Kecamatan Junrejo, dan Kecamatan Bumiaji.

Selanjutnya terbentuk MUI Kota Batu 2008-2013. Ketuanya adalah KH. Nur Yasin Muhtadi, sedangkan Sekretarisnya Drs. H. Khoiruddin, S.Pd, MM.

Dalam kepengurusan ini, kegiatan MUI sudah berjalan baik. Misalnya mengadakan kajian rutin pengurus dan pembinaan di berbagai majelis se-Kota Batu. Lembaga MUI mulai menjadi mitra strategis Pemerintah sehingga kerap terlibat dalam berbagai kegiatan keumatan.

Peran MUI Kota Batu semakin kuat di periode berikutnya tahun 2013-2018. Yang diamanahi sebagai Ketua Umum adalah KH. Nur Yasin Muhtadi, sedangkan Sekretaris Umum H. Achmad Faiz, S.Ag, MHI.

MUI terus terlibat dalam dinamika masyarakat Kota Batu. Pemerintah selalu melibatkan para ulama dalam berbagai kebijakan keumatan, termasuk dengan mengadakan MoU secara resmi dengan beberapa instansi.

Secara rutin, MUI Kota Batu mengadakan pertemuan dan pengajian bersama Forum Pimpinan Daerah (Forpimda). Dari agenda ini ulama dan umara bisa seiring sejalan dalam melayani dan mengayomi masyarakat.

MUI juga kerap memberi arahan kepada umara dalam mengambil kebijakan. Misalnya dengan mengeluarkan dan mensosialisasikan berbagai fatwa yang bertujuan untuk menjaga Kota Batu agar menjadi kawasan wisata yang religius.

Banyak lagi aktivitas MUI Kota Batu. Beberapa di antaranya tergambar dalam website ini.* (MUIBatu.org)